Semarang, Jawa Tengah – Implementasi di lapangan terkait keluhan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kini memasuki babak baru setelah warga ramai-ramai membongkar fakta miris mengenai komposisi makanan yang diterima siswa. Alih-alih mendapatkan asupan protein hewani yang memadai sesuai anggaran Rp15.000 per porsi, banyak ditemukan paket makanan yang justru didominasi oleh karbohidrat ganda dan camilan ringan seperti roti kemasan, kue kering, kacang, hingga irisan bolu yang kualitasnya diragukan.
Berdasarkan investigasi dari berbagai unggahan masyarakat di media sosial, porsi nasi yang diberikan dinilai sangat minim dan tidak proporsional dengan kebutuhan energi pelajar. Kejengkelan warga memuncak saat menemukan fakta bahwa pendamping makanan sering kali hanya makanan yang diduga dibeli secara eceran dari warung sekitar, bukan hasil pengadaan rantai pasok yang terstandarisasi. Hal ini memicu kecurigaan publik mengenai adanya ketimpangan antara anggaran besar yang dikucurkan negara dengan realitas menu “camilan” yang disajikan.
Ketidakkonsistenan porsi antara jenjang PAUD, SD, hingga SMA juga menjadi poin kritikan pedas. Masyarakat menilai vendor atau penyedia jasa sengaja melakukan “pemerataan” porsi ke batas minimum demi mengejar margin keuntungan yang lebih besar. Penggunaan makanan kemasan dan roti olahan dinilai sebagai cara instan penyedia untuk menghindari proses pengolahan pangan segar yang lebih rumit, namun justru mengorbankan nilai gizi utama yang dibutuhkan untuk pencegahan stunting dan kecerdasan anak.
Kondisi ini menuntut pengawasan ketat dari Badan Gizi Nasional dan lembaga audit negara. Jika dana publik yang seharusnya menjadi investasi sumber daya manusia justru mengalir ke praktik pengadaan barang eceran yang tidak akuntabel, maka efektivitas program strategis nasional ini berada dalam ancaman serius.
















Tinggalkan Balasan