Oleh A Sofyan, Redaktur
Editorial – Di tengah gempuran informasi instan dan budaya clickbait yang membanjiri media sosial, Jurnalisme Investigasi hadir sebagai benteng terakhir kebenaran. Ia bukan sekadar laporan berita biasa yang menyajikan “siapa berbicara apa”, melainkan sebuah “napas” bagi demokrasi yang berfungsi membongkar skandal, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan yang sengaja disembunyikan dari mata publik.
Fungsi “Watchdog” yang Tak Tergantikan
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya The Elements of Journalism menyebutkan bahwa kewajiban utama jurnalisme adalah pada kebenaran, dan loyalitas pertamanya kepada warga. Dalam konteks investigasi, peran ini diterjemahkan sebagai watchdog (anjing penjaga).
Tanpa jurnalisme investigasi, kasus korupsi triliunan rupiah, praktik mafia tanah, hingga kejahatan lingkungan mungkin akan terkubur selamanya. Wartawan investigasi bekerja layaknya detektif swasta—menggali data, memverifikasi dokumen, dan melakukan observasi lapangan—untuk menyuarakan mereka yang tak bersuara (voice for the voiceless).
Bukan Sekadar Berita Cepat
Berbeda dengan berita harian (straight news) yang menuntut kecepatan, investigasi menuntut ketepatan dan kedalaman. Sebuah laporan investigasi bisa memakan waktu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan.









Tinggalkan Balasan