Sumur Artesis Kota Lama Semarang Saksi Bisu Sejarah Pengadaan Air Bersih

Abah Sofyan

Menurut Amen Budiman, seorang sejarawan Semarang, sumur artesis di Paradeplein, yang kini dikenal sebagai kawasan Kota Lama, dibangun untuk kepentingan publik.

Pemerintah Kolonial Belanda kemudian membangun sumur-sumur serupa di berbagai tempat di Semarang, seperti di Tawang, Karang Bidara, dan Poncol.

Keberadaan sumur-sumur ini sangat membantu dalam upaya penanggulangan wabah kolera yang pernah melanda Semarang.

Dalam bukunya, Sejarah Semarang, Amen menulis bahwa jumlah penderita kolera di sekitar lokasi sumur bor cenderung lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain yang penduduknya mengandalkan air tanah dangkal.

Bacaan Lainnya

Sumur artesis di Kota Lama Semarang memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan kota ini.

Sayangnya, meski telah ratusan tahun memberi manfaat bagi masyarakat, keberadaan sumur ini semakin terlupakan.

Pada awal pembangunannya pada tahun 1841, sumur ini terletak di area publik yang lapang, sebagaimana terlihat dalam dokumentasi CRA Gallery.

Sebuah foto yang diambil pada tahun 1920 menunjukkan lokasi sekitar sumur yang lapang, dengan jalan yang mengelilingi bundaran tanah lapang di latar depan.

Di sisi kanan dan kiri sumur, hanya terlihat rerumputan yang luas, menciptakan harmoni dengan Paradeplein.

Sumur artesis ini bukan hanya sekadar sumber air, tetapi juga saksi bisu sejarah panjang Kota Semarang.

Dengan segala perubahan yang terjadi di sekitarnya, keberadaan sumur ini menjadi pengingat pentingnya menjaga dan merawat warisan sejarah, agar tidak hilang ditelan zaman.

(M. Efendi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gravatar profile
  • Rating