Jakarta — Sebuah dokumen dan rekaman audio yang beredar terbatas di kalangan pelaku industri sawit memicu spekulasi serius terkait dugaan pertemuan tertutup antara Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah konglomerat besar sektor kelapa sawit nasional. Informasi tersebut disebut-sebut berasal dari grup WhatsApp privat bertajuk “Krisis Minyak Sawit 2025”, meski hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari Istana maupun pihak yang namanya disebut.
Bocoran itu menggambarkan sebuah pertemuan darurat yang konon berlangsung larut malam di Istana Merdeka tanpa agenda publik dan tanpa kehadiran media. Sejumlah nama besar industri sawit disebut hadir, termasuk pimpinan dari kelompok usaha Salim, Wilmar, RGE, Sinar Mas, First Resources, dan Triputra. Selain itu, dua pejabat senior pemerintah, Luhut Binsar Pandjaitan dan Erick Thohir, juga disebut berada di lokasi.
Menurut ringkasan transkrip yang beredar, suasana pertemuan digambarkan tegang dan penuh kecemasan. Industri sawit disebut sedang menghadapi tekanan berlapis, mulai dari anjloknya harga minyak sawit mentah (CPO) hingga level terendah dalam lebih dari dua tahun, derasnya arus keluar modal asing, serta melemahnya saham perusahaan perkebunan di bursa.
Dalam potongan audio yang belum terverifikasi, beberapa suara mengungkap kekhawatiran serius terhadap potensi hengkangnya investor global besar. Disebutkan, jika penarikan dana berlanjut, arus kas industri sawit nasional bisa mengalami defisit miliaran dolar AS dalam waktu singkat.
Tekanan eksternal juga disebut semakin berat menyusul rencana penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR) pada 2026. Regulasi tersebut mewajibkan pembuktian bahwa produk sawit tidak berasal dari deforestasi, sebuah isu sensitif yang telah lama menghantui industri sawit Indonesia. Dalam bocoran itu, para pelaku usaha khawatir pasar ekspor utama akan menyusut drastis dan memicu penumpukan stok dalam negeri.








Tinggalkan Balasan