Mitos Gunung Kemukus: Benarkah Syaratnya Zina 7 Kali?

Abah Sofyan
Ilustrasi Lokasi Gunung Kemukus - Foto AI

Investigasi Indonesia

Sragen, Jawa Tengah – Nama Gunung Kemukus sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Jawa, bahkan Indonesia. Destinasi yang terletak di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah ini selama puluhan tahun menyandang stigma ganda: sebagai tempat ziarah makam keramat, sekaligus lekat dengan legenda ritual seks bebas demi kekayaan (pesugihan).

Namun, di balik kabut mitos yang menyelimutinya, Gunung Kemukus kini telah bersolek. Pemerintah setempat melakukan revitalisasi besar-besaran, mengubah citra “remang-remang” menjadi kawasan wisata religi dan keluarga yang modern bertajuk “The New Kemukus”.

Berikut adalah bedah lengkap mengenai lokasi, sejarah, syarat, dan alur ritual di Gunung Kemukus.

Bacaan Lainnya

Lokasi dan Sejarah Tokoh

Secara administratif, Gunung Kemukus terletak di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, sekitar 30 kilometer sebelah utara Kota Solo. Secara geografis, tempat ini adalah sebuah bukit yang menjorok ke tengah hamparan air Waduk Kedung Ombo.

Tokoh sentral yang dimakamkan di puncaknya adalah Pangeran Samudro. Berdasarkan babad tanah Jawa, ia diyakini sebagai putra Raja Majapahit terakhir (Prabu Brawijaya V) dari selir. Pangeran Samudro meninggal di lokasi tersebut setelah jatuh sakit dalam perjalanannya menyebarkan agama Islam. Tak lama kemudian, ibu tirinya (versi lain menyebut pengasuh setianya), Dewi Ontrowulan, menyusul dan dimakamkan di tempat yang sama.

Asal Mula Mitos Ritual Seks (Pesugihan)

Stigma negatif Gunung Kemukus bermula dari penafsiran keliru masyarakat terhadap wasiat Pangeran Samudro. Konon, beliau berpesan: “Sing sapa duwe panjangka marang aku, kudu sarat demen-demenan kaya nalika aku isih sugeng.”

Kalimat ini sejatinya bermakna kiasan: “Barang siapa ingin keinginannya terkabul, harus mencintai (ilmu agama/Tuhan) sebagaimana aku mencintainya semasa hidup.”

Sayangnya, kata “demen-demenan” (saling mencintai/senang-senang) ditafsirkan secara harfiah oleh sebagian orang awam sebagai hubungan badan. Ditambah dengan fakta bahwa Pangeran Samudro meninggal berdekatan dengan Dewi Ontrowulan, muncullah narasi sesat bahwa peziarah harus melakukan hubungan seksual dengan orang lain (bukan pasangan sah) agar doanya makbul.

Syarat dan Perlengkapan (Uborampe)

Bagi peziarah yang datang dengan niat ngalap berkah (mencari berkah) secara umum, syarat dan perlengkapan yang biasanya dibawa meliputi:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gravatar profile
  • Rating