Pengalaman terjun langsung mendampingi kelompok rentan tersebut membentuk kepekaan sosial yang kuat, baik dalam perannya sebagai jurnalis maupun sebagai perempuan yang memahami realitas kehidupan masyarakat di lapangan.
Sebagai seorang ibu tunggal, Khanza juga menghadapi tantangan berat dalam membesarkan empat orang anak seorang diri. Tekanan ekonomi, beban mental, hingga stigma sosial menjadi bagian dari keseharian yang dihadapi dengan keteguhan dan komitmen demi masa depan anak-anaknya.
“Hari Ibu bagi saya bukan sekadar perayaan, tetapi refleksi tentang perjuangan yang tidak pernah berhenti. Ada hari-hari penuh kelelahan dan ketakutan, bahkan hampir menyerah. Namun sebagai ibu, saya harus tetap berdiri kuat karena ada anak-anak yang menggantungkan masa depannya pada saya,” ujar Khanza.
Ia menekankan pentingnya dukungan moral, empati, dan lingkungan yang tidak menghakimi bagi para ibu, khususnya perempuan yang harus berjuang sendiri dalam keterbatasan.
“Tidak semua ibu memiliki privilese untuk hidup nyaman. Banyak ibu berjuang dalam sunyi. Karena itu, Hari Ibu seharusnya menjadi pengingat agar kita lebih peduli, saling menguatkan, dan menghentikan stigma terhadap perempuan,” tambahnya.
Melalui peringatan Hari Ibu 2025, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif bahwa menghormati ibu berarti menghormati kehidupan itu sendiri, sekaligus membuka ruang yang adil dan manusiawi bagi perempuan untuk tumbuh, berdaya, dan berkontribusi secara utuh dalam pembangunan bangsa.
(Arief/Red)















Tinggalkan Balasan