Semarang, Jawa Tengah – Satu dekade lalu, memiliki pekerjaan sampingan atau side hustle mungkin dianggap sebagai simbol status—tanda bahwa seseorang kreatif, produktif, dan ambisius. Namun, narasi tersebut telah bergeser drastis di tahun 2026.
Bagi mayoritas Gen Z dan milenial muda di Indonesia, side hustle bukan lagi soal gengsi atau membeli barang mewah, melainkan strategi mutlak untuk sekadar bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Realita Pahit: Gaji Utama Tak Lagi Cukup
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Data terbaru dari Youth Economic Sentiment Index (YESI) 2025 yang dirilis Katadata Insight Center membuka mata kita. Survei tersebut mengungkap bahwa 58% responden berusia 17–29 tahun kini memiliki setidaknya satu sumber pendapatan tambahan di luar pekerjaan tetap atau kuliah mereka.
Angka ini melonjak signifikan sebesar 12 poin dibandingkan tahun 2022. Ketika ditanya alasannya, jawabannya cukup menampar:
- 73% mengaku gaji atau pendapatan utama tidak cukup menutupi biaya hidup dasar.
- 41% melakukannya demi menabung dana darurat.
- Hanya segelintir kecil (9%) yang beralasan sekadar ingin mencoba tantangan baru.
- Bermodal Ponsel: Tren Pekerjaan Sampingan 2026
Berdasarkan penelusuran tren di berbagai platform media sosial seperti TikTok dan Instagram, pola pekerjaan sampingan pun telah berevolusi. Sebanyak 62% pelaku side hustle kini menjalankan bisnisnya hanya bermodal ponsel pintar, tanpa perlu laptop canggih atau menyewa ruko.
Jenis pekerjaan yang paling diminati meliputi:
Ekosistem E-Commerce: Menjadi reseller atau dropshipper produk viral (skincare, fesyen).
Jasa Kreatif Kilat: Jasa desain template Canva, editing video pendek untuk medsos, hingga admin media sosial.






Tinggalkan Balasan