“Kami mempertanyakan urgensi membangun Mako di hutan Ciampel yang kami anggap sebagai paru-paru dunia. Jangan sampai bencana ekologis terjadi di Karawang,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti dugaan ketidakjelasan aliran dana dari penjualan tanah galian (cut and fill) dari lokasi proyek.
“Tanah galiannya dijual ke mana, armadanya milik siapa, dan aliran dananya ke mana, kami tidak tahu. Kami khawatir ada penyalahgunaan oleh oknum,” ungkap Eigen.
Ancaman Aksi yang Lebih Besar
Dukungan penuh datang dari Karang Taruna Desa Parungmulya. Ketuanya, H. Na’im, menegaskan bahwa sekitar 200 kepala keluarga (KK) di Dusun Cijengkol terdampak langsung oleh pembangunan ini.
“Kami akan terus bergerak mendukung masyarakat Cijengkol sampai pembayaran kompensasi tuntas. Jika tuntutan tidak dipenuhi, kami siap menggerakkan massa yang lebih besar lagi,” tandasnya.
(DJ/Tim)








Tinggalkan Balasan