Pelajar di Kudus Tolak Makan Siang Demi Guru

Abah Sofyan

Investigasi Indonesia

Kudus, Jawa Tengah – Jagat media sosial dan grup WhatsApp baru-baru ini dihebohkan dengan surat terbuka untuk Presiden Prabowo yang ditulis oleh seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Surat sarat makna tersebut ditulis oleh Muhammad Rafiif Arsya Maulidi, siswa kelas XI SMK NU Miftahul Falah, Kudus, Jawa Tengah.

Dalam narasi yang menggugah hati tersebut, Arsya secara mengejutkan menyatakan penolakannya terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dicanangkan pemerintah. Bukan karena tidak butuh, remaja yang lahir dari keluarga buruh sederhana ini justru meminta agar jatah anggaran makan siangnya dialihkan demi meningkatkan kesejahteraan pahlawan tanpa tanda jasa, yakni guru-gurunya di sekolah.

“Saya melihat masih banyak guru, termasuk di SMK Miftahul Falah tempat saya belajar, yang mengabdi dengan penuh dedikasi tetapi belum memperoleh kesejahteraan yang layak,” tulis Arsya dalam surat terbukanya yang viral, dikutip pada Jumat (3/4/2026).

Bacaan Lainnya

Arsya bahkan merinci kalkulasi sederhana. Dengan sisa masa belajarnya sekitar satu setengah tahun, ia memperkirakan jatah makannya bernilai sekitar Rp 6.750.000 (18 bulan x 25 hari x Rp 15.000). Ia memohon agar dana tersebut tidak diberikan kepadanya dalam bentuk makanan, melainkan disalurkan sebagai tambahan tunjangan guru.

Di akhir suratnya, Arsya menegaskan bahwa tulisan tersebut sama sekali bukan bentuk perlawanan atau antipati terhadap program pemerintah. Ia memposisikan surat itu murni sebagai jeritan hati seorang murid yang menjunjung tinggi adab dan rasa hormat kepada tenaga pendidik. Ia bahkan mengajak rekan-rekan pelajar di seluruh Indonesia untuk ikut menyuarakan pentingnya kesejahteraan guru sebagai fondasi utama kemajuan bangsa.

Fenomena surat terbuka ini seakan menampar realitas dunia pendidikan di Tanah Air. Di saat pemerintah tengah gencar mempromosikan asupan gizi bagi siswa, masih banyak guru honorer maupun guru swasta yang harus bertahan hidup dengan gaji yang jauh dari upah minimum regional (UMR), padahal tanggung jawab mereka adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gravatar profile
  • Rating