Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu perlawanan terbesar di Sulawesi Selatan, di mana istana kerajaan yang biasanya menjadi simbol feodalisme, justru menjadi markas revolusi untuk membela republik.
Perang Gerilya dan Pengorbanan Sang Raja
Karena kalah dalam persenjataan modern, pasukan rakyat Luwu akhirnya terdesak mundur dari kota. Namun, ini bukan akhir dari perjuangan. Andi Djemma memimpin rakyatnya menyingkir ke pedalaman dan memulai taktik perang gerilya yang panjang dan melelahkan.
Dalam masa perjuangan tersebut, Andi Djemma harus merelakan putra-putranya gugur di medan perang, termasuk Andi Mappanyompa. Sang Datu sendiri akhirnya tertangkap oleh Belanda pada Juli 1946.
Belanda yang marah kemudian mengasingkan Andi Djemma ke Ternate selama bertahun-tahun. Meski diasingkan dan ditekan, ia tidak pernah mau mencabut dukungannya terhadap Soekarno-Hatta dan Republik Indonesia.
Warisan Keteladanan
Perlawanan Rakyat Luwu 1946 bukan sekadar pertempuran fisik, melainkan simbol integrasi nasional. Atas jasa-jasanya yang luar biasa, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Andi Djemma pada tahun 2002.
Kini, setiap tanggal 23 Januari diperingati sebagai Hari Perlawanan Rakyat Luwu. Semangat Andi Djemma mengajarkan bahwa kedaulatan dan harga diri bangsa berada di atas takhta dan kekuasaan.
(Red)




Tinggalkan Balasan