Jakarta – Partisipasi Indonesia dalam penandatanganan pembentukan Dewan Perdamaian Dunia (World Peace Council – WPC) di Davos, Swiss, memantik perdebatan sengit di kalangan intelektual global. Inisiatif yang diprakarsai Amerika Serikat dalam ajang World Economic Forum (WEF) ini menempatkan Indonesia di persimpangan jalan: apakah akan menjadi pemain kunci dalam arsitektur keamanan global, atau sekadar pion dalam papan catur hegemoni negara adidaya?
Antara Harapan Kantian dan Realitas Politik
Kesepakatan yang turut ditandatangani oleh Indonesia, Maroko, dan Qatar ini membawa dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia mencerminkan semangat Perpetual Peace ala Immanuel Kant, di mana perdamaian abadi diupayakan melalui federasi negara-negara yang tunduk pada hukum universal.
Baca juga: Wilson Lalengke Desak PBB Bertindak









Tinggalkan Balasan