Selamat, Anda Sudah Mati Tapi Masih Berjalan!

Abah Sofyan

Investigasi Indonesia 

Redaksional – Pernahkah Anda merasa seperti mesin yang terus berputar namun tidak berpindah tempat? Bangun di pagi hari bukan karena gairah menyambut matahari, melainkan karena denting alarm yang memaksa. Bekerja bukan karena cinta atau visi, melainkan sekadar menggugurkan kewajiban. Lalu, malam hari tiba dengan membawa kelelahan yang luar biasa, hingga istirahat pun terasa bukan sebagai “pemulihan”, melainkan hanya untuk mengisi daya agar bisa dipaksa bekerja kembali keesokan harinya.

Selamat, Anda baru saja mendeskripsikan kondisi “hidup yang sudah mati”. Sebuah kondisi di mana fisik Anda masih bernapas, namun jiwa Anda sudah lama angkat kaki. Anda menjadi budak waktu, lupa bahwa usia terus bertambah, fisik semakin keropos, dan energi semakin terkuras habis. Anda terjebak dalam siklus yang seolah tak pernah selesai, namun lucunya, Anda merasa tak berdaya untuk melawan keadaan.

Mengapa Kita Menjadi “Mati”?

Sederhana: Karena Anda membiarkan diri Anda menjadi objek—bukan subjek—dalam hidup Anda sendiri. Anda membiarkan tuntutan pekerjaan, cicilan, dan ekspektasi orang lain menyetir hidup Anda sampai ke titik nol. Anda terlalu sibuk berlari mengejar daftar tugas (to-do list), sampai lupa bahwa Anda sedang berlari menuju lubang kubur sendiri tanpa sempat menikmati pemandangan di sepanjang jalan.

Bacaan Lainnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gravatar profile
  • Rating