Investigasi Indonesia
Redaksional – Ada semacam ketakutan kolektif yang tak terucap di kalangan generasi muda hari ini. Sebuah rasa enggan untuk dianggap “ketinggalan zaman” hanya karena kita menunjukkan ketertarikan pada akar budaya sendiri. Sering kali, saat kita mencoba mengapresiasi batik, mempelajari sastra lokal, atau sekadar menggunakan istilah bahasa daerah di ruang publik, muncul bisikan sinis: “Wah, sok tradisional banget.”
Rasa malu itu seolah menjadi “seragam” yang dipaksakan oleh arus zaman. Kita terobsesi menjadi warga dunia yang kosmopolitan, sampai lupa bahwa menjadi warga dunia tidak berarti harus menanggalkan identitas asal.
Mengapa Kita Malu?
Rasa malu itu muncul bukan karena budaya kita tidak menarik. Rasa malu itu lahir dari ketidaktahuan kita sendiri—karena kita melihat budaya hanya sebatas artefak mati, museum yang berdebu, atau tontonan yang membosankan. Kita gagal melihat bahwa budaya adalah living organism, sesuatu yang bernapas dan terus beradaptasi.
Ketika kita menganggap budaya adalah sesuatu yang “kaku”, maka menjadi melek budaya terasa seperti menjadi beban. Kita merasa harus tampil kuno, kaku, dan tidak relevan dengan tren yang bergerak cepat di media sosial.
Budaya Adalah Mata Uang Intelektual
Padahal, di dunia yang semakin seragam, keunikan adalah mata uang yang paling bernilai. Ketika semua orang di dunia ini mengonsumsi konten yang sama, mendengarkan musik yang sama, dan memiliki gaya hidup yang seragam, seseorang yang memiliki deep understanding terhadap akarnya justru akan menonjol.
Menjadi generasi melek budaya bukanlah tentang memakai pakaian adat setiap hari atau menolak teknologi. Ini tentang literasi. Ini adalah kemampuan untuk memahami konteks, nilai, dan filosofi di balik apa yang kita miliki. Orang yang melek budaya memiliki perspektif yang lebih luas. Mereka tidak mudah terombang-ambing oleh tren global karena mereka memiliki jangkar identitas yang kuat.









Tinggalkan Balasan