Jangan Jadi Jurnalis Kalau Malas Menulis dan Mengandalkan Rilis

Abah Sofyan

“Jurnalis yang baik bukan mereka yang paling cepat menyalin rilis, melainkan mereka yang mampu membongkar narasi di balik rilis tersebut,” tegas Sofyan.

Solusi untuk Keluar dari Jebakan Malas

Untuk mengembalikan marwah jurnalisme, berikut adalah langkah yang harus diambil:

Haramkan “Copy-Paste”: Jadikan rilis sebagai referensi data awal, bukan naskah final. Wajibkan diri untuk melakukan wawancara tambahan kepada pihak terkait (minimal dua pihak berbeda) untuk mendapatkan perspektif yang berimbang.

Terapkan Riset Mandiri: Manfaatkan data terbuka, arsip, dan dokumen publik untuk memperkaya berita. Tulisan yang didukung data primer akan selalu punya nilai jual lebih tinggi daripada rilis.

Bacaan Lainnya

Latih “Field Reporting”: Turun ke lapangan, temui manusia di balik kebijakan, dan dengarkan suara-suara yang tidak tercantum dalam rilis pers.

Budayakan Editing Diri: Sebelum mengirim naskah, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah tulisan ini memberikan perspektif baru bagi pembaca?” Jika jawabannya tidak, bongkar dan tulis ulang.

Catatan Redaksi: Profesi jurnalis adalah profesi terhormat yang menuntut kejujuran dan kerja keras. Redaksi menegaskan bahwa masa depan media tidak akan selamat jika jurnalisnya kehilangan gairah untuk menulis dan berpikir kritis. Mari berhenti menjadi “staf humas” dan kembali menjadi “penjaga kebenaran”.

(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gravatar profile
  • Rating