Investigasi Indonesia
Majalengka, Jawa Barat – Proyek pemeliharaan Jalan Dawuan–Majalengka yang berlokasi di wilayah Kecamatan Kasokandel kini tengah menjadi sorotan tajam masyarakat. Pasalnya, infrastruktur jalan yang belum lama selesai diperbaiki tersebut terpantau sudah kembali mengalami kerusakan di sejumlah titik, memicu keraguan warga atas mutu dan kualitas pengerjaan proyek.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, beberapa bagian jalan yang baru dilapisi aspal tampak mulai retak, mengelupas, bahkan muncul lubang-lubang baru di permukaan jalan. Di sejumlah titik lainnya, terlihat hasil tambalan aspal yang tidak merata dan menunjukkan adanya indikasi penurunan kualitas konstruksi yang cukup signifikan meskipun usia pengerjaan masih seumur jagung.
Kerusakan yang paling mencolok terlihat di area depan kawasan permukiman warga serta fasilitas umum. Jika dibiarkan tanpa adanya penanganan cepat, dikhawatirkan kerusakan jalan ini akan semakin parah dan dapat membahayakan para pengguna jalan yang melintas.
Berdasarkan data resmi pada papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, kegiatan infrastruktur ini merupakan proyek Pemeliharaan Jalan Dawuan–Majalengka yang berada di bawah naungan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Majalengka.
Berikut adalah rincian detail proyek tersebut:
Nama Kegiatan: Pemeliharaan Jalan Dawuan–Majalengka
Lokasi: Kecamatan Kasokandel
Tanggal SPK: 30 Juni 2025
Penyedia/Kontraktor: CV. Pringgandani
Nilai Kontrak: Rp3.910.505.000
Sumber Dana: Opsen PKB
Masyarakat Desak Evaluasi Teknis dan Transparansi Anggaran
Melihat kondisi fisik jalan yang hancur dalam waktu singkat, masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk segera turun tangan melakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh terhadap hasil kerja pihak kontraktor.
Warga yang enggan disebutkan namanya menilai, proyek dengan alokasi anggaran fantastis mencapai miliaran rupiah dari uang rakyat seharusnya menghasilkan mutu infrastruktur yang kokoh, berstandar tinggi, dan memiliki daya tahan jangka panjang. Dugaan lemahnya fungsi pengawasan di lapangan dituding menjadi salah satu pemicu buruknya hasil akhir pelapisan aspal tersebut.



Tinggalkan Balasan