“Bedanya kalau di sini tuh enggak ada birokrasi, jadi lebih ke arah by merit aja. Lu cuman butuh kerja keras sama work on really hard problems. Kalau bisa solve itu, pasti ada aja customer datang,” jelasnya.
Ia pun mengakui bahwa merintis usaha di Amerika Serikat terasa jauh lebih enak baginya. Video ini pun diakhiri dengan pertanyaan retoris dari Theresa kepada para penontonnya, “Gimana guys menurut kalian, mau bikin perusahaan di sini (Amerika) atau di Indonesia?”
Kisah Kevin ini memantik perbincangan hangat di kalangan warganet terkait kompleksitas birokrasi di Indonesia yang kerap dianggap sebagai batu sandungan bagi para startup dan pengusaha muda yang ingin berinovasi.
Catatan Redaksi: Kisah Kevin menjadi refleksi penting dan teguran keras bagi ekosistem bisnis di Indonesia. Kerumitan birokrasi yang masih menjadi tembok tebal bagi para inovator muda berpotensi memicu fenomena brain drain, di mana talenta-talenta berbakat Tanah Air justru memilih berkarya dan memajukan negara lain yang sistemnya lebih menghargai kemampuan (merit-based). Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu serius memangkas birokrasi yang berbelit agar iklim investasi dan inovasi teknologi di Indonesia bisa bersaing di kancah global.
(Red)






Tinggalkan Balasan