PT BSI Bersama Nelayan Lestarikan Petik Laut

Abah Sofyan

Investigasi Indonesia

Banyuwangi, Jawa Timur – Kehadiran pelaku investasi PT Bumi Suksesindo (PT BSI) bukan hanya membawa manfaat dalam percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Banyuwangi saja. Namun, perusahaan juga mampu hadir pada momentum pelestarian adat, budaya, dan kearifan lokal masyarakat nelayan setempat.

Salah satu bukti nyata adalah dalam perayaan tradisi petik laut yang digelar masyarakat pesisir Lampon, Desa Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, pada Selasa, 16 Juni 2026 lalu. Di situ, anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk ini memberikan bantuan guna kelancaran acara yang digeber bertepatan dengan tanggal 1 Suro tersebut.

Community Development Superintendent PT BSI, Amirrul Darmawan, menyebut bahwa bantuan sengaja diberikan sebagai wujud dukungan terhadap upaya masyarakat dalam pelestarian adat istiadat dan kearifan lokal. Menurutnya, bidang sosial budaya merupakan salah satu pilar utama program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) pertambangan.

Bacaan Lainnya

“Jadi, program sosial PT BSI tidak melulu soal ekonomi atau infrastruktur. Kami juga memperhatikan pelestarian adat istiadat dan kearifan lokal seperti petik laut ini,” katanya, Rabu (17/6/2026).

Sebagai bentuk penghargaan dan kepedulian, sejumlah perwakilan manajemen operator tambang emas di Gunung Tumpang Pitu, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran itu turut hadir. Mereka berbaur dengan jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Forpimka Pesanggaran, para tokoh, nelayan, serta masyarakat yang tumpah ruah memadati lokasi kegiatan.

Amirrul Darmawan bercerita, kegiatan diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat, lalu dilanjutkan dengan larung sesaji menggunakan perahu hias berisi beragam hasil bumi, hasil tangkapan laut, hingga kepala sapi menuju laut selatan Pantai Lampon.

Salah satu tokoh masyarakat Lampon, Suharsono, mengatakan bahwa tradisi petik laut di Pantai Lampon telah dilaksanakan sejak tahun 1927 dan kini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nelayan.

“Tradisi ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan kebersamaan yang sangat tinggi. Sampai hari ini, masyarakat masih menjaga dan melestarikannya dengan penuh rasa tanggung jawab,” ujar Suharsono.

Ia menjelaskan bahwa larung sesaji merupakan simbol ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan anugerah hasil laut sekaligus permohonan tolak bala agar para nelayan diberi keselamatan.

“Masyarakat nelayan menyadari bahwa seluruh hasil laut yang diperoleh merupakan karunia dari Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, melalui petik laut kami memanjatkan doa sebagai bentuk rasa syukur sekaligus memohon keselamatan bagi para nelayan yang setiap hari mencari nafkah di laut,” jelasnya.

Suharsono menegaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan petik laut tidak lepas dari semangat gotong royong masyarakat nelayan Pantai Lampon yang masih sangat kuat hingga saat ini, serta adanya dukungan dari para pemangku kepentingan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Profil Gravatar
  • Rating