Polda Jateng Waspadai Karhutla Kemarau

Abah Sofyan

Investigasi Indonesia 

Semarang, Jawa Tengah — Potensi kebakaran hutan dan lahan Jawa Tengah meningkat seiring masuknya musim kemarau 2026. Polda Jawa Tengah mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian lingkungan untuk mencegah terjadinya karhutla di berbagai wilayah rawan.

Memasuki periode kemarau, sejumlah daerah di Jawa Tengah mulai mengalami penurunan intensitas hujan dan peningkatan suhu udara. Kondisi ini menyebabkan tanah dan vegetasi mengering, sehingga memicu tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan kering.

Berdasarkan prakiraan BMKG Jawa Tengah, musim kemarau diprediksi berlangsung sejak April hingga Mei 2026, dengan puncak terjadi pada Agustus 2026. Situasi ini berpotensi meningkatkan jumlah titik api seiring menurunnya kelembapan tanah.

Bacaan Lainnya

Wilayah Jawa Tengah bagian timur dan utara seperti Kabupaten Blora, Rembang, Grobogan, dan Pati menjadi daerah dengan tingkat kerawanan tinggi. Karakteristik hutan jati dan lahan kering di wilayah tersebut membuatnya lebih mudah terbakar, terlebih saat daun jati mengering dan angin kencang terjadi.

Selain itu, wilayah selatan seperti Kabupaten Wonogiri juga memiliki potensi kerawanan, khususnya pada kawasan perbukitan dan lahan terbuka dengan vegetasi semak yang mudah mengering.

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat akibat asap, menurunkan kualitas udara, serta mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Polda Jawa Tengah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi, antara lain peningkatan patroli di wilayah rawan, pemetaan titik api, serta penguatan koordinasi lintas sektor bersama instansi terkait.

Kabid Humas Polda Jawa Tengah Kombes Pol Artanto mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam pencegahan karhutla.

“Memasuki musim kemarau ini, kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Hindari membuka lahan dengan cara dibakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta memastikan api benar-benar padam setelah digunakan,” ujar Kombes Pol Artanto saat ditemui pada Kamis (16/4/2026) di Mapolda Jateng.

Ia menegaskan bahwa sebagian besar kejadian karhutla dipicu oleh aktivitas manusia, sehingga peran masyarakat sangat penting dalam upaya pencegahan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Gravatar profile
  • Rating